Review Film: Obsession
Sumber Gambar & Konten: CNN Indonesia
Search History //search const searchBox = document.querySelector('.search'); const searchBtn = document.querySelector('.search-btn'); const searchBtnclose = document.querySelector('.search-close') const overlay = document.querySelector('.overlay') const htmlTag = document.documentElement; const searchInput = document.getElementById('searchinput'); const searchList = document.querySelector('.search-list'); const searchSuggest = document.querySelector('.search-suggestion'); function disableScroll() { scrollTop = window.pageYOffset || document.documentElement.scrollTop; scrollLeft = window.pageXOffset || document.documentElement.scrollLeft; window.onscroll = function () { window.scrollTo(scrollLeft, scrollTop); }; } function enableScroll() { window.onscroll = function () {}; } searchBtn.addEventListener("click", (e) => { searchBox.classList.add('search__active'); overlay.classList.remove('hidden'); htmlTag.classList.add('overflow-hidden'); disableScroll(); _pt(e.currentTarget); }) searchBtnclose.addEventListener("click", (e) => { searchBox.classList.remove('search__active'); overlay.classList.add('hidden'); htmlTag.classList.remove('overflow-hidden'); enableScroll(); _pt(e.currentTarget); }) overlay.addEventListener("click", (e) => { if (overlay.classList.contains("hidden")) { return } searchBox.classList.remove('search__active'); overlay.classList.add('hidden'); htmlTag.classList.remove('overflow-hidden'); enableScroll(); }) // Debounce utility function useDebounce(callback, delay) { let timer; return function (...args) { clearTimeout(timer); timer = setTimeout(() => callback(...args), delay); }; } // DOM elements const suggestionsContainer = document.getElementById('suggestions'); // Fetch suggestions from Google's Suggest API async function fetchSuggestions(query) { try { const response = await fetch( `https://suggestqueries.google.com/complete/search?client=firefox&q=${encodeURIComponent(query)}` ); const data = await response.json(); return data[1]; // Suggestions array } catch (error) { console.error('Error fetching suggestions:', error); return []; } } function highlightKeyword(keyword, str) { const regex = new RegExp(`(${keyword})`, "gi"); // Case-insensitive match return str.replace(regex, "$1"); } // Render suggestions function renderSuggestions(suggestions, query) { suggestionsContainer.innerHTML = ''; // Clear previous suggestions if (suggestions.length === 0) { return; } let suggestionList = "" suggestions.forEach((suggestion) => { suggestionList += ` ${highlightKeyword(query, suggestion)} ` }); suggestionsContainer.innerHTML = suggestionList } function fetchSuggestionsJSONP(query, callback) { const script = document.createElement('script'); const callbackName = `jsonpCallback_${Date.now()}`; script.src = `https://suggestqueries.google.com/complete/search?client=chrome&q=${encodeURIComponent(query)}&callback=${callbackName}`; window[callbackName] = function (data) { callback(data[1], query); // Pass suggestions to callback delete window[callbackName]; // Clean up document.body.removeChild(script); // Remove script tag }; script.onerror = function () { console.error('Error fetching JSONP suggestions'); delete window[callbackName]; document.body.removeChild(script); }; document.body.appendChild(script); } // Debounced input handler const handleInput = useDebounce(async (event) => { const query = event.target.value.trim(); event.preventDefault(); if (query.length === 0) { searchList.classList.remove('hidden'); searchSuggest.classList.add('hidden'); return; } else { searchList.classList.add('hidden'); searchSuggest.classList.remove('hidden'); } const safeQuery = encodeURIComponent(query.toLowerCase()); fetchSuggestionsJSONP(safeQuery, (suggestions, query) => { renderSuggestions(suggestions, query); }); }, 200); // debounce delay value searchInput.addEventListener('keyup', handleInput); function setSearchKeywords(keywords) { document.cookie = `lastSearchKeyword=${encodeURIComponent(JSON.stringify(keywords))}; path=/`; } function getSearchKeywords() { const cookies = document.cookie.split('; '); for (let cookie of cookies) { let [name, value] = cookie.split('='); if (name === 'lastSearchKeyword') { return JSON.parse(decodeURIComponent(value)); } } return []; } let searchHistoryCookie = getSearchKeywords() if (!Array.isArray(searchHistoryCookie)) { searchHistoryCookie = [] } let searchHistoryList = ""; if (searchHistoryCookie.length > 0) { for (let i = 0; i ${searchHistoryCookie[i]} `; } } const elLastSearch = document.getElementById("cnnSearchHistory"); elLastSearch.innerHTML = searchHistoryList; Loading... $(document).ready(function() { detikConnectAutoLogin('10027', false, onLoginClient); }); function onLoginClient (data){ $('.loader').remove() const dcUrl = 'https://connect.detik.com/dashboard/'; document.dispatchEvent(new CustomEvent('login:client', { detail: data })); if (data.is_login) { $('#connectDetikAvatar').css({'background-image': `url(${data.avatar})`, 'background-size': '100% auto'}); $('#dropdown').append(` ${data.first_name} ${data.last_name} Keluar `); iFrameResize({ log: false }, '#alloCardIframe') } else { const loginUrl = `https://connect.detik.com/oauth/authorize?clientId=10027&redirectUrl=https%3A%2F%2Fwww.cnnindonesia.com%2Fauthorize%3Fu%3Dhttps%3A%2F%2Fwww.cnnindonesia.com%2Fhiburan%2F20260715070201-220-1380827%2Freview-film-obsession&backURL=https%3A%2F%2Fwww.cnnindonesia.com%2Fhiburan%2F20260715070201-220-1380827%2Freview-film-obsession`; $('#dropdown').append(` Daftar Masuk `); } } googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1543479379624-0'); }); --> Hiburan Film Review Film: Obsession Christie Stefanie | CNN Indonesia Rabu, 15 Jul 2026 20:20 WIB var article = { idnews : 1380827, idkanal : 220 } var baseurl = 'https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260715070201-220-1380827/review-film-obsession'; getScript("https://cdn.detik.net.id/libs/sharebox/js/shareBox.js?v=2026071521", function(){ waitUntil( function () { return typeof shareBox === 'object' && typeof shareBox.run === 'function'; }, // kondisi function () { shareBox.run($('.share-top-new')); }, // aksi 10000 // max 10 detik ); }) Bagikan: url telah tercopy Review Obsession: Film ini membuktikan anggaran rendah bukan alasan untuk melahirkan horor yang murahan. (Blumhouse Productions) googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1630594592022-0'); }); --> 4 Review Obsession: Film ini membuktikan anggaran rendah bukan alasan untuk melahirkan horor yang murahan. Jakarta, CNN Indonesia -- Obsession menjadi pembuktian Curry Barker bahwa ide yang sederhana bisa cukup jadi modal membuat tragedi horor yang kelam dan solid.
Sebagai penulis naskah dan sutradara, Barker sukses menggodok pesan klasik mengenai konsekuensi dari suatu keinginan menjadi teror. Ia juga menyelipkan isu sensitif yang kerap luput dalam hubungan modern, yakni penolakan dan consent.
Totalitas yang solid di depan dan belakang kamera berhasil menjadikan Obsession sebagai tontonan horor yang tidak hanya menarik dari segi cerita, tapi juga kuat secara visual dan akting.
Semua tim tampak sangat sadar bahwa sedang menggarap cerita horor dengan pendekatan sedikit berbeda. Mereka memilih terjun langsung ke kegilaan plot, tanpa menyisakan waktu untuk menjelaskan latar belakang.
Rasa cemas dan stres diulur perlahan sejak menit pertama. Barker ogah memakai formula murahan lewat jump scare yang instan. Ia membangun suasana perlahan tapi pasti, dan makin lama terasa semakin menyimpang.
Detail cerita pun dijaga ketat. Ia merajut semua elemen cerita yang diberikan sejak awal secara konsisten, tanpa membiarkan ada yang menggantung atau terabaikan di akhir.
Pujian juga patut diberikan kepada Taylor Clemons selaku sinematografer. Ia sering kali menahan bidikan sedikit lebih lama pada wajah aktor untuk memanen suasana canggung.
Trik ini efektif memunculkan gestur mencurigakan, terutama bagi Nikki yang figurnya sering disembunyikan di balik bayang-bayang gelap.
Visual garapan Clemons dijahit pas dengan ritme penyuntingan gambar dari Barker, diperkuat tata suara racikan Rock Burwell yang konstan supaya menjaga ketakutan penonton tetap stabil.
Namun, pesona paling mengerikan dalam Obsession mutlak berada di pundak Inde Navarrette. Lakonnya sebagai Nikki pantas disebut sebagai salah satu penampilan paling menghantui tahun ini.
Ia dengan mulus mengantarkan perubahan karakter dari perempuan rentan yang memicu iba, menjadi sosok predator manipulatif yang meneror batin.
Kengerian itu juga dibangun perlahan dan memuncak saat Nikki tak sekadar terobsesi untuk 'menempel' dengan Bear, tapi juga menyerap dan meniru informasi hal-hal yang disukai pria itu demi bisa menirunya secara presisi.
Puncaknya kegilaannya meledak saat perang internal antara Nikki yang asli dengan entitas Wish Nikki dengan brutal memperebutkan tubuh perempuan tersebut.
Di sisi lain, Michael Johnston juga memberikan penampilan solid sebagai Bear. Naskah film ini juga patut dipuji karena menolak membersihkan dosa Bear atas petaka yang ia sulut sendiri.
Situasi itu yang tampaknya membuat sebagian penonton melupakan akar masalah dari seluruh tragedi dan telanjur menaruh simpati pada Bear karena pembawaannya yang malang.
Padahal, Bear adalah poros antagonis yang subtil. Ia punya sekian banyak momentum untuk tidak memulai atau mengakhiri kegilaan.
Ironisnya, ia malah memilih memelihara nestapa demi menyuapi ego dan keputusasaannya sendiri.
Johnston memahami cara menerjemahkan sosok pria pasif nan pengecut, sehingga ia tampil begitu menjengkelkan saat hanya duduk mematung, menonton Nikki yang asli mencoba merebut kembali kesadarannya dari Wish Nikki.
Keputusan Bear mempertahankan ilusi cinta instan menegaskan bahwa seluruh malapetaka merupakan akibat timbunan kepengecutannya sendiri.
Namun, pemain kunci dari lingkaran setan ini adalah Ian (Cooper Tomlinson). Ia contoh nyata dari sahabat toksik tingkat akut yang memanipulasi keadaan dari balik layar.
Tomlinson piawai memainkan topeng humoris karakternya untuk menyembunyikan isi kepala yang jahat. Ian bermain bidak catur sendirian, memanfaatkan kenaifan Bear untuk menelan semua dampak buruk dari saran dan hal-hal buruk yang ia bisikkan sepanjang waktu.
Catatan impresif juga ditinggalkan Megan Lawless sebagai Sarah. Meski jatah layarnya terhitung minim, Lawless mampu memanen simpati penuh penonton, terutama sekuens emosional yang begitu raw dalam mobil.
Lewat nasib tragis Sarah dan Nikki, Barker dengan berani melempar kritik tajam tentang keputusan egois dari pengecut dan pecundang bisa menghancurkan hidup orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, Obsession menjadi bukti konkret bahwa anggaran rendah bukan alasan melahirkan tontonan yang kedodoran.
Mereka mampu eksekusi kisah mimpi indah berakhir petaka dengan atmosfer cemas yang konstan, dan performa akting jempolan, terutama dari Inde Navarrete.